Pages

Subscribe:

Labels

Kamis, 08 Mei 2014

Fenomena Pembagian Zakat di Indonesia

Berdasarkan PANDUAN ZAKAT PRAKTIS (Yasin, :53),
Zakat merupakan ibadah yang memiliki dimensi ganda, transendental dan horizontal. Oleh sebab itu, zakat memiliki banyak arti dalam kehidupan umat manusia, terutama umat Islam. Zakat memiliki banyak hikmah, baik yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhannya, maupun hubungan sosial kemasyarakatan di antara manusia, yaitu antara lain:
a. Menolong, membantu, membina, dan membangun kaum dhuafa , dan lemah papa, untuk memenuhi kebutuhan pokok hidup mereka. Dengan kondisi tersebut, mereka akan mampu melaksanakan kewajiban-kewajibannya terhadap Allah swt.
b. Memberantas penyakit iri hati, rasa benci, dan dengki dari diri manusia yang biasa timbul di kala ia melihat orang-orang di sekitarnya berkehidupan cukup, apalagi mewah. Sedang ia sendiri tidak punya apa-apa dan tidak ada uluran tangan dari mereka (orang kaya) kepadanya.
c. Dapat menyucikan diri (pribadi) dari kotoran dosa, memurnikan jiwa (menumbuhkan akhlak mulia, menjadi murah hati, memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi) dan mengikis sifat-sifat kikir dan serakah yang menjadi tabiat manusia. Sehingga dapat merasakan ketenangan batin karena terbebas dari tuntutan Allah dan tuntutan kewajiban kemasyarakatan.
d. Dapat menunjang terwujudnya sistem kemasyarakatan Islam yang berdiri di atas prinsip-prinsip: umat yang satu, persamaan derajat, hak, dan kewajiban, persaudaraan Islam, dan solidaritas sosial.
e. Menjadi unsur penting dalam mewujudkan keseimbangan distribusi harta, kepemilikan harta, dan tanggung jawab individu dalam masyarakat.
f. Zakat adalah ibadah harta yang mempunyai dimensi dan fungsi ekonomi atau pemerataan karunia Allah dan merupakan perwujudan solidaritas sosial, pembuktian persaudaraan Islam, pengikat persaudaraan umat dan bangsa sebagai penghubung antara golongan kuat dan lemah.
g. Dapat mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera sehingga hubungan seorang dengan lainnya menjadi rukun, damai, harmonis dan dapat menciptakan situasi yang tenteram, aman lahir dan batin.

Zakat di Indonesia
Mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Maka tak heran jika berzakat menjadi sesuatu yang umum dilakukan, karena zakat sendiri termasuk rukun islam.Pemberitaan pembagian zakat pun sudah menjadi rutinitas setiap tahunnya.Tidak hanya zakat fitrah, bahkan zakat-zakat yang lainnya juga diberitakan.Pemberitaannya cenderung homogen, yaitu tentang bagaimana antrian yang mengular panjang melebihi kereta api serta oknum masyarakat yang tak sabar antri dan takut tidak kebagian zakat menyebabkan pembagian zakat menjadi kisruh, ada orang pingsan, lansia terinjak-injak, dan berbagai kejadian lainnya.

Berikut adalah beberapa video kejadian kisruhnya pembagian zakat.


Bandung - Pembagian Zakat Masjid Agung Ricuh


Pembagian Zakat Ricuh Anak Kecil Terinjak-injak di Gorontalo

Masih ingatkah peristiwa pembagian zakat H. Syaikon 2008 silam? Dilansir dari blog Dunixi (2008) Pembagian zakat mal (harta benda) di Desa Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Pasuruan, Jawa Timur itu mengakibatkan meninggalnya belasan manula karena terinjak-injak. Total korban yang meninggal pada kejadian tersebut adalah 21 orang (DetikNews, 2008). Dan masih banyak lagi kasus lainnya.

Menurut saya secara tidak langsung beberapa contoh kejadian di atas memberikan gambaran bagaimana perilaku masyarakat Indonesia pada umumnya. Bagaimana kejamnya Muzakki (pemberi zakat/wajib zakat) itu, membiarkan orang berdiri berjam-jam untuk mengantri zakat. Bagaimana para pemberi zakat yang di televisi itu sangat tidak menghargai Mustahiq (penerima zakat). Mengapa saya katakan di tv? Sebab, faktanya di desa saya tidak ada orang yang mengantri untuk mendapat zakat. Pemberi zakat memberikan zakatnya secara langsung kepada penerima zakat ke rumahnya. Selain itu juga memberikan gambaran bagaimana orang Indonesia tidak membudayakan antri, suka main serobot saja.

Bulan Juli nanti kita akan kembali berjumpa dengan bulan Ramadhan yang artinya sebentar lagi para Muzzaki akan membayarkan zakatnya. Akankah kisruh pembagian zakat akan berlanjut? Tak inginkah pembagian zakat dirasakan manfaatnya bukan malah menimbulkan kesan negatif? Oleh karena itu diperlukan urun rembuk solusi dan kerja sama dalam pengimplementasiannya dari berbagai pihak.

Solusi Menangani Kericuhan
Saran saya lebih baik penerima zakat, terutama kaum dhuafa di data atau minta data pada pejabat desa yang berkepentingan, sehingga akan lebih tepat sasaran. Lalu untuk pendistribusiannya langsung ke rumah-rumah penerima, sehingga tidak perlu antri. Jika berzakatnya melalui amil zakat, maka amil zakat inilah yang hendaknya melakukan pendataan dan pendistribusian seperti tersebut di atas.
Sebenarnya saran saya ini tidak hanya berlaku pada zakat saja. Alangkah lebih baiknya jika para dermawan yang membagikan angpau, atau apapun itu yang pernah saya lihat di televisi juga mempertimbangkan hal ini sebab menurut logika saya jika mereka mampu berbagi seperti itu, tentunya tidak akan menjadi masalah bagi mereka untuk mengeluarkan biaya tambahan untuk memberi upah pada orang untuk mendata orang yang akan menerima sedekah, terutama kaum dhu’afa serta membagikannya ke rumah-rumah. Dalam implementasinya tentu hal ini tidak mudah dan memerlukan dukungan dari berbagai pihak. Diperlukan kejujuran dari yang didata, kejujuran dari yang mendata, kedislipinan dari masyarakat, serta adanya suatu sanksi hukum bagi seseorang/ lembaga yang masih membagikan zakatnya secara massal dengan masyarakat yang masih mengantri.
Mungkin ada beberapa yang memberikan saran dengan memberikan kupon antrian dan lain-lain sehingga masyrakat bisa antri satu-satu. Saya tidak menentang saran ini, karena paling tidak antriannya akan menjadi lebih tertib. Tetapi jika mempertimbangkan waktu yang dihabiskan pengantri, lelahnya berdiri, dan bagaimana mereka harus tetap berada di antrian sehingga harus menahan keinginan alaimiah mereka (maaf, misalnya ke kamar kecil) bahkan harus menunda waktu sholat karena takut kehilangan antriannya. Maka saya lebih menyukai para penerima zakat itu tetap berada di rumah atau beraktivitas seperti biasa.

Semoga tulisan saya bisa bermanfaat dan menginspirasi kalian untuk memberikan solusi kreatif kalian untuk menyelesaikan masalah pembagian zakat ini. Dan semoga ke depannya pembagian zakat di Indonesia akan damai dan membawa senyuman bagi penerimanya serta benar-benar dapat dirasakan hikmah dari zakat itu sendiri. Ambillah yang baik dan jika ada yang salah saya minta maaf, itu artinya saya masih manusia :-)




Sumber:
DetikNews. 2008.Kisruh dan Maut di Gang Sempit. diakses di http://news.detik.com/read/2008/09/15/163504/1006569/475/2/kisruh-dan-maut-di-gang-sempit [Kamis, 08 Mei 2014 pukul 10.32]
Dunixi. 2008. Ricuh Pembagian Zakat, Belasan Manula Tewas. diakses di http://paranti1056.wordpress.com/2008/09/15/zakatricuh/ [Kamis, 08 Mei 2014 pukul 03.13 WIB]
Yasin, A.H.. 2011. Panduan Zakat Praktis (Panduan Zakat Dompet Duafa). didownload di http://zakat.or.id/wp-content/uploads/2012/02/PANDUAN-ZAKAT-DD.pdf [Jum'at, 18 April 2014 pukul 12.33 WIB]

Jumat, 18 April 2014

[SOTOY] Spring Bed

PERINGATAN!
Mengandung informasi yang tidak bisa dijamin kebenarannya karena berasal dari otak penulis yang suka berkhayal, menebak dan memirip-miripkan sesuatu.


Spring Bed berasal dari kata spring yang artinya musim semi, dan bed yang artinya tempat tidur.
Tempat tidur yang berbahan busa ini diberi nama springbed sepertinya terinspirasi dari konsep "tidur di rumput yang empuk dengan dikelilingi bunga-bunga musim semi". Oleh karena itu bahan yang digunakan adalah busa dan motifnya bunga-bunga. Meskipun saat ini banyak juga springbed yang polos, tanpa motif, tapi analisisku tetap seperti di atas.

Nah, bagaimana menurut kalian? jika ada info yang sebenarnya silahkan tuliskan di komen ya :-)

Kamis, 17 April 2014

[Cerita Masa Kecil] Foto-foto imut :p

Hehe.. tidak ada foto-foto masa kecilku yang tak upload. Cuma mau menceritakan nasib foto-foto saat aku masih imut >,< Peace ya! Peace ^^v, jangan timpuk saya.

Begini kisahnya. Dahulu kala..ehm.ehm. saat itu umurku mungkin 3/4 tahun. Malam-malam ada tukang foto keliling. Dan ayahku menginginkan agar aku di foto. Tapi aku saat itu sangat takut difoto karena cahaya blitznya. Jadilah aku menangis.
Orang tuaku, siwo, simbah, mbak yaroh, mbak win membujukku agar tidak menangis dan mau difoto, bahkan sampai Wo Kucit, tetanggaku yang juga masih saudara bahkan menawarkan diri unmenemani foto. Aku dibawa ke ruang tamu rumah Wo Kucit dan digandeng di samping kanannya. Akhirnya jadilah aku difoto. tapi, saat difoto dengan wo kucit aku tatap menangis dan mencoba memberontak. Alhasil di foto itu aku menangis dengan mulut terbuka lebar. Dan karena sepertinya pak juru fotonya pun sudah lelah menghadapiku ahirnya jadilah foto itu adalah hasil finalnya =="
Nah, setelah "aku kecil" melihat hasil foto malam itu, sepertinya aku tidak suka dengan ekspresiku dan bertekad untuk membuat foto yang bagus karena setelah itu aku minta pada orang tuaku untuk difoto lagi. Setiap hari aku menunggu juru foto keliling, dan akhirnya hari di mana juru foto itu sampai di rumahku tiba. Tetapi sepertinya aku memang tidak bisa berekspresi di foto. Fotoku datar tidak ekspresif dan datar. Tidak ada manis-manisnya.
Seingatku fotonya ada di rumah simbah, tetapi sejak rumah simbah direnovasi aku tidak pernah melihat foto itu lagi. entah bagaimana nasibnya.
Kalau foto yang malam hari itu aku tidak menyimpannya, seingatku Wo Kucit yang menyimpannya. Dan terakhir kali aku lihat foto itu adalah saat aku masih SD dan sudah agak rusak.

Hmm.. setelah itu sepertinya aku dan orang tuaku beberapa kali foto ke studio foto. Dan nasib fotonya pun sama. Rusak dan akhirnya di buang. Padahal ada satu foto yang aku memakai baju merah "tengu" yang aku sangat manis di sana, rambutku shaggy pendek berponi. kulitku nampak putih.. dan bahkan foto itu dikira foto adikku (yang asli putih)..hee. tapi fotonya benar-benar mirip adikku, 99%.
Dan intinya adalah.. aku tidak punya foto masa kecil apalagi bayi. Dan aku sangat menyayangkan ini :(
Kedua adikku pun sama. Tidak punya foto masa kecil. eh.. ada ding.. adikku tidak punyanya foto bayi. Padahal adikku Anita pernah difoto saat bayi di pernikahan Wo Dasriah, dia imut-imut banget di foto itu, tetapi rusak kayaknya..dan dibuang ==". Kalau Arman, dia tidak punya foto bayi, tetapi foto saat dia masih kecil masih ada..

Aaaargggghhhhh!!! #teriakanfrustasidansedih?

[SOTOY] Asal Kata "BETAWI", "AYE", dan "LU"

PERINGATAN!
Mengandung informasi yang tidak bisa dijamin kebenarannya karena berasal dari otak penulis yang suka berkhayal, menebak dan memirip-miripkan sesuatu.



Betawi adalah sebutan bagi penduduk Jakarta asli. Banyak orang berpendapat Betawi sebenarnya adalah pengucapan dari Batavia jika dilihat dari katanya yang mirip. Begitu juga penulis. tetapi, setelah membaca wikipedia Betawi (Bahasa Melayu Brunei) di mana kata "Betawi" digunakan untuk menyebut giwang. Nama ini mengacu pada ekskavasi di Babelan, Kabupaten Bekasi, yang banyak ditemukan giwang dari abad ke-11 M.

Orang betawi biasa mengucapkan kata "aye" (yang dalam bahasa Indonesia adalah aku atau saya, dan dalam bahasa jawa krama Kula (red: kulo)untuk merujuk kepada dirinya sendiri. Kata aye berasal dari kata "I" bahasa inggris/belanda. sedangkan kata Lu (yang dalam bahasa Indonesia adalah kamu, dan dalam bahasa jawa krama panjenengan)yang digunakan untuk merujuk kepada orang lain, sepertinya berasal dari kata "U" bahasa inggris/belanda


Nah, bagaimana menurut kalian? jika ada info yang sebenarnya silahkan tuliskan di komen ya :-)

Sabtu, 01 Februari 2014

[Cerita Masa Kecil] Menunggui Sawah



Saat kecil aku sering sekali pergi ke sawah simbah (kakek) dan siwo (pakde/bude). Yang paling aku suka adalah saat musim tanam padi. Saat matun, dan menanam padi akan ada makanan untuk para pekerja yang biasanya diantarkan oleh siapa ya? aku lupa.. kalau tidak salah sih ma'e (ibu) atau sepupuku. Dan pastinya aku ikut dengan siapapun yang mengantarkan makanan. nah, saat orang-orang makan maka aku akan ikut makan. Sungguh, meskipun sederhana (seringnya nasi-megono-kerupuk) tetapi makanannya terasa sangat nikmat. Dengan suasana persawahan dan suasana kekeluargaan yang kental.. Aku rindu saat-saat itu.

Selain saat musim tanan, aku juga ke sawah saat musim panen. Suasananya tetap sama, dan tetap ada makanan.. yummy :p.

Yang paling seru adalah saat menunggui sawah untuk menjaga padi dari burung. Aku biasanya menunggui sawah bersama mbak Yaroh, mbak Sih, dan mbak Nanik, yang adalah para sepupuku. Kejadian yang paling aku ingat adalah saat menunggui sawah milik orang tua mbak Nanik dan mbak sih. Saat itu seperti biasa kami menghalau burung dan juga bermain-main, tetapi tiba-tiba saja hujan turun. Sawah mbak Nanik tidak ada ranggon-nya (semacam bungalow, biasanya dibuat dari bambu dengan atam rumbia). Jadi kami langsung berlari pulang. Jalanan sawah yang sempit dengan pinggiran sawah dan tebu, tanpa alas kaki, menurun dan menanjak tanpa berniat mengurangi kecepatan hingga sampai di rumah masing-masing. whohooooo.. sangat seru. :D Apalagi saat sampai di rumah ternyata ibuku sedang menggoreng keripik pisang...:D
Kalau ku ingat-ingat lagi sepertinya keripik pisang itu untuk persiapan menjamu tamu untuk hajatan pembangunan rumahku aka orang nyumbang.

sebenarnya masih banyak lagi pengalamanku di sawah, tapi kebanyakan aku lupa. kejadian-kejadian di atas terjadi saat umurku kira-kira 4-5 tahun. Setelah itu aku hampir tidak pernah lagi ke sawah simbah atau siwo dikarenakan aku dan keluargaku yang tadinya serumah dengan kakek pindah ke rumah baru kami yang jauh dari rumah simbah dan sawahnya. Tetapi bukan berarti aku tidak ke sawah lagi. Tanah rumahku sekarang adalah bekas sawah dan samping kanan dan belakang rumahku masih persawahan. Hanya saja tak ada lagi ikut mengirim makanan dan menghalau burung.

Hmm.. semakin bertambah usia semakin banyak kenangan masa kecil yang terlupakan. Apalagi saat ini ingatanku rasanya semakin berkurang..aisshhhh. Aku hanya ingin selalu mengenangnya, makanya aku menulis cerita masa kecilku ini. Mungkin aku tidak pandai merangkai kata untuk menggambarkan keseruannya. Tetapi tenan, sungguh, di video otakku masih terputar jelas betapa serunya saat itu.


n.b: that picture is mine. Itu foto sawah di desaku, tapi bukan sawah simbah ^^v

Kamis, 30 Januari 2014

[Cerita Masa Kecil] Ikut kampanye Pemilu tahun 1997

Kurang lebih waktu itu umurku 4 tahun.. aku lupa waktu itu pagi atau sore…tapi kemungkinan sih sore..karena waktu itu suasananya tidak terlalu terang dan juga tidak panas. Mungkin sekitar jam 2-an. Saat itu aku yang sedang bersama ibuku tiba-tiba saja digendong ayahku dan diajak keluar rumah…aku dipakaikan ikat kepala merah bergambar banteng dan digendong di kepala. Suasana saat itu ramai sekali…semua orang keluar rumah sekedar untuk menonton dan para ayah memakai atribut berbagai parpol berbondon-bondong ke lapangan desaku,desa kreyo(atau biasa diplesetkan korea:P).
Di tengah perjalanan,kami bertemu dengan banyak rombongan beratribut merah. Bahkan ada yang naik mobil bak terbuka. Ayahku diberi bendera merah, yg juga bergambar banteng, yang oleh ayah diserahkan padaku. Senang sekali rasanya saat itu….menganggap bendera itu sebagai mainan.he.he Kami melanjutkan perjalanan ke lapangan bersama dengan masa yang memenuhi jalanan. Saat sampai di sana lapangan sudah banyak terisi masa yang mayoritas berwarna merah..di tengah lapangan sudah ada panggung. Semakin lama semakin banyak yang datang ..bahkan banyak wajah asing yang kata ayahku mereka berasal dari desa lain. Ternyata rombongan-rombongan yang memakai kendaraan motor,bak terbuka bukanlah dari desaku. Sebagai anak kecil,waktu itu yang ku lakukan hanya bermain bendera dan menonton orang-orang berteriak menyahuti orasi yang di panggung. Sedangkan yang di panggung sama sekali tidak ku pedulikan.hohoho!
Kejadian saat itu begitu melekat kuat dalam memoriku. Sungguh keramaian yang paling ramai di desaku yang sampai sekarang pun belum ada yang mampu memecahkan rekor itu. Bahkan pertandingan sepak bola antar kampung yang ditonton banyak orang pun kalah ramai (aku sering menonton pertandingan sepak bola itu…makanya aku tahu).
Hampir semua orang di desaku berjalan kaki menuju lapangan di waktu yang bersamaan,orang dari berbagai desa dengan rombonga motor,bak terbuka bahkan ada yang jalan kaki..mereka semua menyatu di jalanan yang hanya satu-satunya jalan menuju lapangan dan berkumpul di satu lapangan dengan berbagai teriakan-teriakan yang membahana…bisa dibayangkan bagaimana ramainya saat itu???
Hmm..pada akhirnya setelah megumpulkan puzzle-puzzle cerita,fakta dan memori, bisa ku pastikan kalau saat itu aku,di usiaku yang 4 tahun, mengikuti kampanye parpol. Kampanye parpol tahun 1997. Yang tidak kuketahui adalah bahwa 1 tahun setelahnya akan terjadi kejadian yang sangat bersejarah, yaitu reformasi. Jujur saja saat terjadi krisis 1998 aku tidak merasakan perbedaan apapun dengan tahun-tahun sebelumnya, karena aku masih kecil :p. Hmm…tapi kurasa sekarang aku tahu perbedaannya,aku baru saja menyadari kalau ada yang berubah setelah itu…
keramaian itu tak lagi kujumpai.
Ya..tak ada lagi rasa antusias sebesar itu lagi di desaku saat ada pemilu. Hanya golongan berkepentingan dan segelintir orang yang masih punya harapan akan masa depan bangsa ini yang masih mau peduli.
Tapi siapa yang bisa menyalahkan orang-orang di desaku yang menjadi apatis? Pemimpin bangsa ini mayoritas melakukan korupsi. Apa salah kami jika kepercayaan kami pada kalian berkurang? Jujur, aku merindukan sekali saat-saat itu. Saat rakyat desaku mempercayai pemimpinnya dan punya harapan masa depan yang lebih baik.

Hei, pemimpin masa depan mampukah kalian mewujudkannya?

“ Jika kamu membenci dengan perilaku seseorang,janganlah mem benci juga orangnya. Karena tanpa kamu sadari orang tersebut sudah menjadi guru bagimu”…Guru yang menyadarkanmu lewat perbuatannya,bahwa kau tidak boleh berlaku seperti perbuatannya yang kau benci itu karena orang tak kan menyukainya…